Kamis, 25 Oktober 2012

Tips Foto Di Kebun Binatang


Kebun binatang adalah salah satu tempat favorit penggemar fotografi, mungkin karena kebanyakan dari kita menyukai hewan sebagai obyek foto namun merasa berat dan repot kalau harus benar-benar ke hutan, maka kebun binatang adalah jalan tengahnya. Kalau anda belum pernah menjajal kemampuan fotografi anda di kebun binatang, maka memotret di kebun binatang wajib dicoba.
Oke, sebelum anda benar-benar berangkat terlebih dahulu, kita akan membahas beberapa tips memotret di kebun binatang supaya hasil foto anda nanti bagus, silahkan:
Apa Yang perlu Anda Masukkan Ke Tas Kamera?
Peralatan yang saya rekomendasikan untuk dibawa adalah kombinasi kamera SLR + lensa medium tele diatas 85 mm atau kamera saku Super Zoom dengan zoom optik 10-12 kali , kalau anda memiliki lensa makro bolehlah dibawa serta.
Lensa sepanjang ini diperlukan karena kebanyakan hewan dikebun binatang ditempatkan dalam jarak yang agak jauh dari pengunjung, bahkan seringkali ditambahi pagar kawat diantaranya. Lensa medium tele/ super zoom bisa mengatasi kondisi ini. Namun kalau anda hanya memiliki lensa pendek, jangan berkecil hati, anda tetap bisa menggunakannya untuk memotret atraksi hewan, hewan jinak yang dibiarkan berkeliaran atau bahkan suasana di kebun binatang itu sendiri.
Arahkan Fokus Pada Mata
Seperti kata pepatah, mata adalah jendela jiwa, maka untuk menangkap jiwa “kebinatangan” mereka secara jernih, fokuskan jepretan anda pada mata si hewan. Kalau anda sukses menangkap tatapan khas seekor hewan, foto anda akan berasa lebih dalam dan memiliki sentuhan
Teroboslah Pagar Kawat Itu
He he… tentu saja kata-kata diatas hanya kiasan (saya sih cuma sayang kameranya kalau anda sampai diterkam si maung). Maksud saya sebenarnya, jangan biarkan pagar kawat itu muncul di hasil foto anda nantinya. Trik menghilangkan kawat supaya tidak tampak di foto adalah begini:
  • Gunakan aperture priority (atau manual)
  • Set aperture sebesar-besarnya (pahami lagi konsep aperture)
  • Atur zoom (focal length) di posisi maksimal
  • Tempelkan lensa anda di pagar serapat-rapatnya
  • Lalu atur fokus agar jatuh di hewan (terutama matanya)
  • Jepret
Dalam kasus anda menggunakan kamera tanpa tersedia mode manual (aperture priority), gunakan mode portrait.
Cara diatas pada intinya adalah untuk mengatur Depth of Field sedangkal-dangkalnya (shallow), sehingga saat anda menjatuhkan fokus pada hewan maka pagar kawat menjadi sangat kabur seolah-olah hilang.
Seorang kawan punya trik lebih hebat dalam mengatasi pagar kawat, “Cari pagar kawat yang agak sobek, biasanya kebun binatang di Indonesia perawatannya agak kurang, sehingga keumngkinan besar anda bisa menemukan lobang yang cukup agar lensa bisa masuk sedikit.” Nah itu kata kawan saya bukan saya sendiri.
Tunggu Momen Ketika Hewan Berinteraksi/Beraksi
Memotret hewan yang sedang dalam posisi diam itu sudah biasa, namun memotret hewan yang sedang berinteraksi atau beraksi, itu baru beda. Interaksi disini bisa jadi interaksi hewan dengan sesama hewan, dengan pengunjung (atau pawang) atau bahkan dengan lingkungannya (misal bermain-main dengan ranting atau air). Beraksi bisa jadi hewan yang sedang mengaum, berlari atau bermain.
Kalau anda amati para juara lomba foto satwa, anda akan menemukan sebagian besar foto yang menang adalah foto yang menunjukkan hewan yang sedang berinteraksi. Kuncinya adalah kesabaran anda, karena momen seperti ini tidak bisa diatur.

Tips Untuk Hewan Hiperaktif
Dalam beberapa kasus anda akan menghadapi hewan yang gerakannya amat cepat seperti burung. Dalam kondisi seperti ini, atur setelan ISO di auto ISO, gunakan continous mode (burst) dan set shutter speed yang cukup tinggi (diatas 2 kali panjang fokal) serta atur aperture selebar-lebarnya agar foto anda tetap tajam.
Jadilah Selektif
Memotret di kebun binatang dengan pilihan hewan yang banyak dan beraneka ragam menuntut kita harus selektif dan tertata, jangan memaksakan diri ingin memotret semuanya. Cari tahu daftar hewan yang ada dan lebih baik lagi kalau anda bisa mengetahui lokasi hewan tersebut sebelumnya. Dengan begitu anda bisa memilih urutan hewan mana saja yang ingin anda foto. Pilih sasaran anda dan usahakan tetap disitu sampai anda menghasilkan paling tidak beberapa jepretan yang dirasa memenuhi standar anda. Jangan tergesa-gesa, anda tidak sedang diburu tenggat waktu bukan?
Lihat Kondisi Cahaya
Saat anda memotret hewan dialam terbuka, anda membutuhkan cahaya yang cukup, namun juga tidak berlebihan. Datanglah pagi-pagi karena saat pagi cahaya yang ada cukup namun tidak berlebihan. Cahaya di siang bolong kurang mendukung untuk pemotretan karena terlalu kuat, sifatnya datar dan keras sehingga foto akan memiliki banyak bayangan gelap dan terlalu kontras. Anda bisa mulai memotret lagi saat mulai mendekati sore hari.
Namun kalau kebun binatang yang dikunjungi cukup rimbun, maka anda beruntung karena bisa terlindung dari sinar matahari siang hari yang berlebihan. Saat diang datang, carilah lokasi yang cukup rimbun dan potretlah di area yang ada dibalik bayangan pohon.
Jangan Lupakan Obyek Lain
Meskipun anda pergi ke kebun binatang dan meniatkan diri memotret hewan, jangan lupakan obyek lain selain itu. Perhatikan juga ekspresi pengunjung saat melihat hewan-hewan tersebut, seringkali ekspresi mereka juga cukup menarik untuk diabadikan dalam foto anda.
Seringkali pihak kebun binatang juga mengadakan berbagai atraksi menarik untuk menyedot pengunjung, cari tahu apa saja atraksi yang tersedia, siapa tahu anda bisa menemukan obyek menarik disitu.








 


Jenuh Memotret Dan Cara Mengatasinya



Kecuali anda memang berprofesi sebagai fotografer yang mencari nafkah dari hasil jepretan anda, memotret, sebagaimana jenis hobi lainnya terkadang bisa terasa membosankan. Belum lagi kalau waktu luang yang tersedia mulai terbatas, atau anda mulai merasakan titik jenuh dimana inspirasi tidak muncul dan kreatifitas seperti mandeg.
Namun sayang juga kalau kamera dan lensa yang sudah anda beli dengan lumayan mahal teronggok begitu saja. Belum lagi kalau kita pikir-pikir bahwasanya aktifitas memotret merupakan acara refreshing yang bisa menyegarkan pikiran supaya lebih optimal diajak bekerja.
Tapi bagaimana caranya? Nah ada beberapa hal yang bisa anda coba.

Kombinasikan memotret dengan hobi terbaru anda.
Kalau anda sedang keranjingan dengan hobi baru, bersepeda misalnya, kenapa tidak anda coba padukan fotografi dengan acara bersepeda anda? Bawalah kamera dan lensa yang kira-kira tidak terlalu membebani sembari anda berkeliling dengan sepeda anda, saat anda menemukan obyek menarik, fotolah.

Ikut komunitas fotografi
Memotret sendirian bagi sebagian orang lebih mengasyikan dibandingkan dengan hunting bareng-bareng, namun apa salahnya anda mencoba sesekali bergabung dengan komunitas foto. Ikutlah acara hunting bersama dan nikmati. Saling berbagi trik dan tips atau malah saling mengomentari karya foto masing-masing (secara konstruktif) seringkali adalah cara ampuh menemukan kembali keasyikan memotret.

Lihat sekitar kita
Mindset bahwasanya obyek menarik haruslah dicari terkadang menyesatkan, apa yang ada disekitar kita bisa saja menjadi obyek menarik yang justru sering kita lewatkan. Barang-barang sederhana yang ada dirumah asal kita kreatif justru seringkali menghasilkan foto yang bagus. Kenapa tidak anda coba potret tuts keyboard komputer anda? atau cobalah memotret menu makan malam anda?

Kunjungi pameran foto (amati karya foto fotografer profesional)
Melihat hasil karya fotografer profesional bisa jadi menumbuhkan kembali inspirasi kita. Kunjungi pameran foto (lumayan jarang sih) yang ada di kota anda, dan amati karya fotografer yang ditampilkan. Kalau pameran foto jarang anda temui atau terasa terlalu tinggi, tahukan anda bahwa foto-foto yang ada dipapan iklan dijalan, situs-situs fotografi, lembar majalah/koran serta sampul buku adalah kumpulan karya fotografer profesional?

Jangan terlalu dipikirkan 

Seringkali kita terlalu terbebani harus mencari obyek foto yang bagus, harus mencoba teknik tertentu, harus tepat eksposurnya, harus ini harus itu. Kenapa harus? tidak perlu membebani diri dengan beragam keharusan. Kreatifitas justru mengalir saat kita benar-benar membuka kran tanpa dibatasi apapun. Arahkan lensa anda, jepret apa yang ingin dijepret dan sisanya biarkan mengalir begitu saja.
Kurangi kegiatan mengedit foto

Karena ingin mencapai efek olah digital tertentu, terkadang kita menghabiskan sebagian besar waktu didepan monitor komputer. Tidak adil rasanya kalau kita memotret selama 1 jam dan mengedit di photoshop selama 3 jam. Cobalah dibalik proporsinya, habiskan waktu memotret, dan biarkan foto anda tidak banyak tersentuh photoshop. Kebanyakan nongkrong didepan komputer bisa membuat kita bosan dan kehabisan inspirasi.

Membekukan Gerakan dengan Shutter Priority



Kalau anda sudah mulai mempelajari setting manual eksposur yang tersedia di kamera sekarang waktunya bermain-main dengan settingan yang ada. Di artikel ini kita akan membahas cara membekukan gerakan (motion freeze) menggunakan mode shutter priority. Sekedar refreshing, seperti yang sudah ditulis sebelumnya shutter speed adalah besaran seberapa lama sensor melihat cahaya (alias eksposur) – baca kembali tentang shutter speed dan shutter priority disini.
Secara garis besar mempercepat maupun memperlambat shutter speed menghasilkan foto yang berbeda. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, semua tergantung pesan yang kita inginkan. Shutter speed super cepat membuat anda bisa membekukan gerakan burung terbang, memperlambat shutter speed membuat anda bisa menghasilkan foto panning yang menunjukkan pergerakan. Baik kita mulai:
Semakin cepat gerakan yang ingin anda bekukan dalam foto, semakin cepat shutter speed yang di butuhkan. Pada contoh foto diatas, shutter speed yang dipilih sangat cepat yakni sebesar 1/5000 detik. Shutter speed secepat itu dibutuhkan karena gerakan si peselancar memang sangat cepat, sementara saya berada diatas boat yang juga bergerak mendekat, jadi baik obyek maupun kamera saling bergerak secara relatif. Untuk itu kamera di set di mode shutter priority dan auto ISO serta focus di posisi continous (burst). Saya tentukan terlebih dahulu shutter speed di posisi 1/5000 sehingga kamera memilih aperture sebesar f/2.8.
Bagaimana untuk gerakan yang tidak seekstrim itu?
Foto ini menunjukkan orang yang sedang berjogging di pagi yang cukup cerah. Fotografer cukup membutuhkan shutter speed sedang (1/400 detik) dan itu sudah cukup untuk membekukan gerakant. Kenapa tidak perlu secepat contoh sebelumnya? karena gerakan orang jogging relatif lebih lambat dibanding selancar, plus karena fotografer dalam posisi diam serta karena bidang obyek (orang berlari) relatif paralel dengan bidang fokus kamera (tidak bergerak mendekat seperti contoh selancar).
Foto ini membutuhkan shutter speed sebesar 1/800 detik. Saya dalam posisi diam dan burung yang terbang sedang berusaha memperlambat gerakan, namun jarak burung dari saya cukup dekat (sekitar 6 meter) sehingga saya membutuhkan shutter speed sebesar 1/800 detik.
Tidak ada patokan resmi berapa shutter speed yang dibutuhkan untuk setiap situasi dimana kita ingin membekukan gerakan. Yang jelas anda harus langsung praktek, namun ada beberapa point yang bisa ditarik dari 3 contoh diatas.
Secara garis besar, untuk membekukan gerakan anda perlu mempertimbangkan beberapa hal:
1. Kecepatan obyek itu sendiri, makin cepat obyeknya makin cepat shutter speed yang dibutuhkan
2. Kecepatan relatif kita (fotografer) terhadap obyek. Kalau kita bergerak mendekat maka shutter speed yang dibutuhkan juga makin tinggi
3. Jarak obyek. Semakin dekat jarak obyek dengan fotografer maka shutter speed yang dibutuhkan juga makin tinggi
4. Panjang focal lensa anda. Semakin panjang focal lensa anda maka makin cepat shutter speed yang dibutuhkan.


Teknik Dasar Photography


Menfoto dengan camera DSLR tidaklah jauh beda dengan menfoto dengan camera compact/ point and shoot camera. Ibarat mobil yang memiliki transmission automatic, compact camera / point and shoot memilikki setting cahaya yang sudah diatur otomatis. Sedangkan camera DSLR memilikki setting cahaya dan lainnya yang bisa kita atur secara manual maupun otomatis.
Kalau sudah ada yang auto, kenapa harus pusing dengan setting secara manual?
Kalau anda mengharapkan foto yang anda jepret itu jelas, warnanya bagus, pixelnya tinggi, ya, fungsi auto sudah cukup kok,, kenapa pusing2… Tetapi kalau anda pengen memberikan sentuhan yang berbeda, membuat foto kita kelihatan beda dari yang lain, membuat foto menjadi sesuatu tidak bisa terlihat dengan mata manusia, maka anda harus melakukan setting secara manual,

Pernah complain dengan foto yang anda ambil itu blur(tidak jelas)? Warnanya tidak memuaskan? Lightingnya kelihatan aneh? Ada beberapa situasi, fungsi automation setting tidak bisa memberikan hasil yang terbaik, kalau anda menguasi teknik mengatur sendiri pengcahayaan, well, problem solved..

 
Three Main Gateway
Kalau kita belajar matematika, kita akan memulai dengan 4 dasar yaitu, +,-,x,/, di photography, kita memulai dengan 3 dasar mengatur cahaya yang masuk ke sensor ataupun lebih dikenal dengan three gateway of light, three methodology, dll. Ketiga hal itu adalah Shutter Speed, Aperture, dan ISO Speed (Sensitivitas Sensor terhadap cahaya)

 
Shutter Speed 
adalah kecepatan tirai penutup sensor. Semakin lambat tirainya bergerak, semakin banyak cahaya yang masuk ke sensor,. Shutter speed yang tinggi bisa menangkap object yang bergerak cepat dengan jelas, misalnya mobil yang bergerak, sedangkan shutter speed yang lambat, bisa merekam gambar dengan lambat, sedangkan benda yang bergerak bisa kelihatan motion-nya . Untuk pemahaman cahaya yang masuk melewati kecepatan shutter, kita bisa memakai analogi jendela dan pintu jendela. Ketika kita menekan tombol shutter, pintu jendela ini akan membuka, dan menutup kembali. Ketika pintu jendelanya dibuka secara lambat, cahaya yang masuk melewati kedalam ruangan semakin banyak daripada pintu yang dibuka dengan kecepatan tinggi.
 
Aperture 
adalah lubang cahaya yang masuk ke sensor. Ukuran aperture ditentukan oleh sebuah alat yang bernama diaphragm. Cahaya yang masuk masuk dari lens, bergerak melewati aperture sebelum masuk ke sensor. Fungsi sebenarnya ukuran besar kecilnya aperture adalah untuk mengatur kedalaman ketajaman gambar. Aperture yang kecil mempunyai ketajaman yang lebih dalam sedangkan aperture yang besar memiliki kedalaman yang tidak dalam, sehingga object yang berada diluar dari kedalamanan akan kelihatan kabur. Bagaikan mainan laser, semakin kecil lubang cahaya laser, maka semakin jauh laser bisa memantulkan cahaya, dan semakin lebar lubang cahaya, maka semakin tidak jauh laser bisa memantulkan cahayanya. Kita bisa mengunakan kembali analogi jendela dan pintu jendela diatas untuk pemahaman pengaturan cahaya lewat aperture. Kalau kecepatan pintu jendela membuka dan menutup kembali itu adalah shutter speed, maka jendela itu sendiri adalah aperture karena cahaya memasuki sensor lewat jendela itu. Semakin lebarnya jendela maka otomatis cahaya yang masuk lebih banyak dan begitu juga sebaliknya.
Satu hal yang akan selalu membingungkan pemula adalah besar aperture bukan ditentukan besar f number,, tapi sebaliknya. misalnya f 2.8 adalah aperture besar sedangkan f22 adalah aperture kecil..
Kombinasi antara shutter speed dan aperture adalah kunci untuk menentukan sebuah gambar itu memliki exposure yang tepat. Ketika berada di tempat yang terang seperti outdoor, kita bisa menggunakan shutter speed yang tinggi dengan aperture yang tinggi untuk mengurangi cahaya yang berlebihan masuk kedalam sensor supaya hasil dari foto tidak terlalu terang. Sedangkan ketika berada ditempat tidak terlalu terang seperti indoor, kita bisa menggunakan Aperture yang besar dan Shutter speed yang lambat. Namun shutter speed yang lambat sangat sensitive dengan pergerakan camera. Kamera yang bergerak saat shutter speed lambat berjalan akan menyebabkan gambar yang kabur. Di situasi seperti ini, penggunaan Tripod (alat tempat camera berdiri) atau kecepatan ISO bisa menjadi solusi.

 
ISO Speed 
adalah sensitivitas sensor terhadap cahaya. Penggunaan ISO yang tinggi bisa membantu sensor menrespon cahaya dengan lebih cepat, namun semakin tinggi ISO, akan menimbulkan noise. Noise membuat gambar kelihatan tidak jernih,.
Dengan kombinasi tiga pintu masuk cahaya, kita bisa mengatur settingan cahaya sesuai situasi dan kebutuhan kita dimana fungsi Auto kadang tidak bisa melakukannya dengan benar. Kalau kita melihat object lewat viewfinder yang merupakan refleksi dari cermin, bagaimana kita mengetahui sebuah settingan itu over exposure atau kekurangan cahaya. Biasanya di Viewfinder ada meteran cahaya untuk kita mengatur exposure yang tepat. Begitu juga kalau melakukan live view dari lcd secara langsung,, ada sebuah meter kecil terletak bagian bawah lcd atau bagian atas.
Masih banyak settingan dan teknik, kita akan membahas lebih lanjut disambungan topik ini.