Senin, 28 Januari 2013

Ibadah Dalam Agama Konghucu

Agama konghucu di Indonesia tidak hanya mengajarkan kepada penganutnya bagaiman seseorng berbakti  kepada Tian (Tuhan yang maha esa) orang tua, orng yang lebih tua, para pemimpin, tapi juga mengajarkan tata cara melakukan ibadah kepada Tian, Nabi, orang-orang suci, leluhur dan lain-lain.
Dalam ritual peribadatan agama konghucu ini penulis akan mengawali dari arti dan tujuan melaksanakan ritual menurut umat konghucu di klenteng boen bio, kemudian gerakan yang dilakukan dalam prosesi pelaksanaan peribadatan, dan perangkat yang dipergunakan dalam ritual tersebut.
Jenis-jenis kebaktian
A.    Melakukan Ibadah Kepada Thian
1).   Sembahyang mengucapkan syukur tiap pagi, sore, saat menerima rezeki (makanan). Umat Khonghucu pada pagi hari, sore, dan saat menerima rezeki (makan) melakukan sembahyang kepada Thian. Sembahyang ini mereka lakukan di depan meja sembahyang (altar) yang terdapat di rumahnya. Umumnya meja sembahyang ini di simapan di ruang tamu sehingga bila berkunjung ke rumah umat Khonghucu, kita akan dapat melihat bentuk meja sembahyang yang sebenarnya.
2).   Sembahyang atau Thian Hio tiap tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan/lunar (Imlek). Pada tanggal-tanggal tersebut setiap bulannya, umat Khonghucu juga juga melakukan sembahyang di depan altar keluarga di rumah dan bisa juga dilakukan di tempat ibadah umum (Litang). Orang yang memelihara abu membakar dupa dihadapan abu atau papan arwah leluhurnya, dan juga di hadapan patung dewa yang dipuja dalam rumahnya. Upacara ini mereka lakukan pada pagi hari dan petang.
3).   Sembahyang besar pada hari-hari kemuliaan Thian, yaitu:
a.      Sembahyang malam penutupan tahun/malam menjelang Gwan Tan.
b.     Sembahyang King Thi Kong, tanggal 8 menjelang tanggal 9 Cia Gwee (bulan pertama).
c.      Sembahyang saat Siang Gwan atau Cap Go Meh, 15 Cia Gwee (bulan pertama).
d.     Sembahyang hari Tangcik (hari di mana letak matahari tepat di atas garis balik 23,5 Lintang Selatan, yakni tepat tanggal 22 Desember), yang dilakukan pada tanggal 22 Desember.
B.    Kebaktian pada Nabi
1).   Peringatan hari lahir nabi (Khonghucu), tanggal 27-8 Imlek/Ci Sing Tan.
2).   Peringatan hari wafat nabi, tanggal 18-2/Ci Sing Ki Sien.
3).   Peringatan hari genta rohani/Bok Tok (genta yang dibuat dari logam dan dipukul dengan pemukul yang terbuat dari kayu), setiap tanggal 22 Desember.
C.    Kebaktian untuk Para Suci
1).   Hari Twan Yang, tanggal 5-5 Imlek. Twan artinya lurus, terkemuka, terang, dan Yang artinya sifat positif atau matahari. Twan Yang artinya pada saat matahari memancarkan cahaya paling keras.
2).   Sembahyang Tiong Chiu, tanggal 15-8 Imlek. Tanggal 15 bulan 8 Imlek adalah saat bulan purnama dipertengahan musim rntok (musim gugur/autumn) di belahan bumi utara. Pada saat itu cuaca baik dan bulan nampak sangat cemerlang. Pada saat itu juga para petani sibuk dan gembira karena berada di tengah musim panen. Pada saat bulan purnama itu dilakukan sembahyang Hok Tik Cing Sien (malaikat bumi) untuk mengungkapkan pernyataan syukur.
3).   Hari He Gwan, tanggal 15-10 Imlek. He Gwan diartikan sebagai pernyataan terakhir dalam satu tahun akan maha kasih Tuhan. Pada saat He Gwan ini dilakukan sembahyang besar bagi malaikat Bumi (ok Tik Cing Sien) yang merupakan lambing semesta alam ciptaan Tuhan.
D.    Sembahyang Bagi Leluhur
1).   Sembayang tiap tanggal 1 dan 15 penaggalan bulan.
2).   Hari wafat leluhur atau orangtua (Co Ki).
3).   Sembahyang tutup tahun (Tik Sik) tanggal 29-12 Imlek.
4).   Sembahyang Sadranan/Ziarah/Ching Bing, tanggal 5 April. Sembahyang ini juga sering disebut sembahyang kubur.
5).   Sembahyang pada arwah leluhur, tanggal 15-7 Imlek.
E.     Kebaktian Masyarakat
1).   King Ho Ping atau sembahyang arwah umum, tanggal 29-7 Imlek.
2).   Hari persaudaraan atau hari kenaikan malaikat dapur tanggal 24-12 Imlek pada hari-hari tersebut umat Khonghucu diwajibkan berdana (membantu fakir miskin). Menjelang tahun baru Imlek, bantuan-bantuan yang berasal dari umat Khonghucu dibagikan pada fakir miskin tanpa membedakan golongan.
3).   Seluruh perbuatan lahir batin manusia sepanjang hidup hendaknya disadari sebagai perbuatan kebaktian atau ibadah. Hal ini disebut “hidup sepenuh hidup”.
1.     Arti dan Tujuan umat konghucu melaksanakan Ritual peribadatan
Hampir sama dengan agama pada umumnya arti dalam ibadah itu sendiri yakni menyembah kepada tuhan yang maha esa, bias juga diartikan sebagai pola komunikasi antara mahluq dengan tuhannya, oleh karena ibadah atau sembahyang merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan umat beragama, begitu pula dengan kondisi umat konghucu yang mempunyai ritual tersendiri dan mempunyai tujuan dalam pelaksanaan ritual tersebut, secara garis besar tujuan dari pada melaksanakan ritual peribadatan bagi umat konghucu adalah:
a.      Mendekatkan diri pada Tuhan yang maha esa, tidak bisa dipungkiri bahwa pola komunikasi vertical antara mahluq hidup dengan tuhannya harus dilakukan oleh umat beragama setiap harinya, baik pelaksanaannya dirumah maupun di tempat tempat ibadah sesuai dengan agamanya masing masing, dengan tujuan untuk lebih dekat dengan Tuhan- Tian- yang menguasai seluruh alam.
b.     Memohon pertolongan dan perlindungan, ketika manusia merasa bahwa dirinya terancam dan tidak ada lagi yang bias menolongnya maka dia akan berdo’a pada tuhannya dan memint pertolongan pada-Nya, oleh karena itu ketika melakukan peribadatan maka umat konghucu meminta kepada Tian agar selalu dilindungi dan diberi pertolongan ketika dalam kesusahan,
“Perlu diketahui bahwa memohon berbeda dengan meminta, ketika kita meminta sedangkan tidak diberi maka yang salah adalah yang tidak memberi, akan tetapi ketika kita memohon maka sepenuhnya hak berada pada yang dimohon, apa mau dikasih atau tidak terserah pada yang punya wewenang dalam hal ini Tuhan”.demikian tambah Liem Tiong Yang.
c.      Bersyukur atas nikmat Tuhan, manusia tidak akan pernah bias menghitung berapa banyak nikmat yang telah tuhan anugrahkan buat kita semua, sejak kita didalam kandungan sampai kita lahir manusia tidak bias menghitungnya, oleh karena itu manusia hanya bisa mensyukuri nikmat yang telah Tuhan anugrahkan buat kita, dalam melakukan peribadatan umat konghucu mengucapkan syukur kepada Tian yang telah member nikmat dan anugrah kepada hambanya.
Disebutkan dalam salahsatu bab kitab suci agama konghucu bahwa “Kepada orang yang bertaqwa pada Tuhan yang maha esa maka Tuhan akan memberikan bantuan”.
2.     Prosesi Peribadatan Umat Konghucu
Ada dua tempat peribadatan yang biasnya digunakan oleh umat konghucu yang pertama adalah dirumah, sedangkan yang kedua adalah diklenteng, tidak ada perbedaan yang mendasar antara proses pelaksanaan peribadatan dirumah dan diklenteng, keduanya sama yakni beribadah pada arwah leluhur yang suci, beribadah pada Tuhan dan beribadah pada Nabi konghucu.
Secara umum tempat ibadah Konghucu adalah Litang, Miao (Bio), Kongzi Miao, Khongcu Bio dan Kelenteng. Litang, selain merupakan tempat sembahyang, juga merupakan tempat kebaktian berkala (biasanya setiap hari Minggu atau tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek). Di sini umat mendapat siraman rohani (khotbah) dari para rohaniwan. Miao dan Kelenteng biasanya hanya merupakan tempat sembahyang. Kalau pun ada kebaktian, biasanya ditempatkan di ruangan yang terpisah agar tak terganggu aktivitas sembahyang. Di samping menjadi tempat ibadah agama Konghucu, Kelenteng biasanya juga menjadi tempat ibadah agama Tao dan agama Buddha Mahayana.
Rohaniwan agama Konghucu terdiri atas : Xueshi, Wenshi, Jiaosheng, Zhanglao dan Ketua-Ketua / Pimpinan-Pimpinan Majelis dan atau Tempat Ibadah. Sebelum menjadi Xueshi (biasa disingkat Xs), harus melalui jenjang Wenshi (Ws). Sebelum menjadi Wenshi, harus melalui jenjang Jiaosheng (Js). Tokoh yang sudah mencapai tingkatan sesepuh atau sangat senior di sebut Zhanglao (Zl).
Setiap rohaniwan, sesepuh dan para pimpinan tempat ibadah yang memegang mandat dan Surat Pengangkatan dari Dewan Pengurus Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) dan atau menerima Surat Liyuan Rohaniwan (persidian, peneguhan iman) dari Dewan Rohaniwan MATAKIN, memiliki kewenangan :
a.     Menyelenggarakan kebaktian bagi umat Konghucu di daerahnya.
b.     Melakukan Liyuan umat.
c.      Memimpin berbagai upacara suci bagi umat Konghucu, sesuai Hukum Agama Konghucu, termasuk Hukum Perkawinan Agama Konghucu, yang diatur dalam Tata Agama Konghucu.
Perlu diketahui juga ada perbedaan antara prosesi peribadatan di klenteng Boen Bio dengan klenteng lain, kalau di klenteng lain ketika kita akan masuk klenteng maka terlebih dahulu kita sembahyang untuk Tuhan di altar luar baru kemudian kita masuk dan beribadah untuk para nabi dan arwah leluhur yang suci di altar dalam, sedangkan di kelnteng Boen Bio, kita langsung melaksanakan prosesi peribadatan di altar dalam tanpa ada altar luar, adapun prosesi peribadatan umat konghucu adalah sebagai berikut:
a.      Terlebih dahulu menyalakan lilin di tempat berdo’a atau altar,
b.     Membakar Hio atau Dupa sebanyak 3  atau 9 batang yang melambangkan Tuhan, Manusia dan Bumi, kemudian dinaikkan dahi sebanyak 3 kali, dengan berkata sebagai berikut, pada angkatan Hio yang pertama maka yang diuacapkan adalah kehadiran Thian Tuhan yang maha besar ditempat yang maha tinggi,dipermuliakanlah. Pada angkata Hio yang kedua yang harus diucapkan adalah kehadapan nabi Agung Konghucu, sebagai pembimbing dan penyadar dalam kehidupan kami, dipermuliakanlah. Sedanngkan pada angkata ketiga yang diucapkan adalah kehadapan arwah para leluhur yang kami hormati dan kami cintai, terimalah sembah dan sujud kami, shanzai.
c.      Setelah pengangkatan Hio maka langkah selanjutnya adalah meletakkan Hio di Youlu atau tempat peletakan Hio yang terbuat dari besi kuningan dan berbentuk hati, Hio pertama diletakkan di tengah, yang kedua diletakkan di sebelah kanan, dan yang terakhir diletakkan disebelah kiri.
d.     Berdo’a dengan sikap Pat Tik, ada dua sikap pat tik, Pertama sikap pat tik delapan kebajikan mendekap Thai Kik yaitu dengan cara tangan kanan dikepalkan lalu ditutup dengan tangan kiri, sikap tangan ini gunakan juga pada waktu bersembahyang, kedua sikap delapan kebajikan mendekap hati dengan cara tangan kanan tetap membuka, tangan kiri merangkap punggung tangan kanan dan kedua ibu jari dipertemukan kemudian didekappan di dada, sikap ini hanya digunakan pada waktu berdo’a.
Tangan bersikap pat tik dan didekappan di dada mempunyai makna “Aku selalu ingat bahwa dengan perantara ayah bunda Tian telah berkenan menjadikan daku manusia, maka manusia wajib melakukan delapan kebajikan”.
Delapan jalan kebajikan tersebut adalah:
-        Berbakti atau Hau, berbakti disini mempunyai makna yang sangat universal, mulai dari berbakti kepada tuhan yang maha esa, berbakti kepada oran tua dan sampai berbakti pada Negara nusa dan Bangsa, pada asal artinya berbakti di khususkan pada orangtua saja, di contohkan oleh Liem ketika kami melaksanakan wawancara “ketika seorang melaksanakan proses pembelajaran (Kuliyah-semisal-) dan sampai di Drop Out oleh akademik maka dia telah tidak berbakti pada orang tua karena sesungguhnya orang tua selalu menginginkan anaknya untuk lulus kuliyah”
-        Rendah Hati atau Tee, yakni tidak sombong dan tidak Gumede roso, selalu berbuat rendah hati dengan sesame mahluq.
-        Setia atau Tiong .
-        Dapat dipercaya atau Sien yakni dengan selalu menepati janji dan melaksanakan apa yang telah dikatakan.
-        Susila atau Lee yaitu berisi tentang aturan yang ada di masyarakat umum.
-        Kebenaran atau Gi.
-        Suci hati atau Liam, dengan selalu positive thingking dan bersih hati.
-        Tahu malu atau Thi, menjadi manusia harus punya rasa tahu malu, karena dengan rasa inilah kita secara tidak langsung juga akan dihormati oleh orang lain, salah satu hal yang membedakan antara manusia dengan Hewan adalah hewan tidak pernah punya rasa malu sedangkan manusia mempunyai rasa malu, ketika manusia tidak punya rasa malu berarti dia tidak ada bedanya dengan hewan.
Selain delapan jalan kebajikan dalam pat tik diatas, ada beberapa makna yang terkandung dalam pat tik,
-        Ibu jari kiri yang melambangkan ayah
-        Ibu jari kanan yang melambangkan ibu
-        Kedua ibu jari jika dipertemukan dalam posisi pat tik maka akan membentuk huruf jien yang artinya manusia.
-        Delapan jari yang lain melambangkan delapan kebajikan seperti yang telah dipaparkan diatas,
-        Kesatuan genggaman melambangkan Tian, Tuhan yang maha esa.
-        Dekapan dalam dada melambangkan bahwa kita selalu ingat pada-Nya.
Lain dari pada itu ada juga aturan yang harus dilaksanakan dalam penggunaan Pat Tik dalam hal jumlah:
-        Kepada sesama orang hidup maka hanya satu kali angkatan saja atau pai
-        Kepada jenazah atau orang meninggal dengan dua kali angkatan atau Tinglee.
-        Kepada Altar Tuhan, Nabi atau para arwah Suci sebanyak tiga kali angkatan atau Tinglee.
3.     Makna dari symbol dan Benda yang digunakan dalam prosesi peribadatan.
Setiap pelaksanaan peribadatan diperlukan symbol symbol sebagai kelengkapan peribadatan, tidak hanya sekedar symbol saja akan tetapi dibalik symbol tersebut juga mempunyai makna dan arti tertentu sehingga menimbulkan kesakralan tersendiri bagi umat beragama, dalam prosesi peribadatan agama konghucu juga menggunaka beberapa benda dan symbol yang didalamnya mengandung makna dan arti.
a.      Hio atau Dupa, Hio artinya harum,  yaitu bahan pembakar yang dapat mengeluarkan asap yang berbau sedap atau harum, dupa yang dikenal pada zaman nabi Kongzu berwujud bubuk atau belahan kayu, membakar dupa dalam peribadatan umat konghucu mengandung makna “jalam suci itu berasal dari kesatuan hatiku dan hatiku dibawa melalui keharuman dupa”, selain itu juga beguna untuk:
-        Menenangkan pikiran, memudahkan konsentrasi dan meditasi
-        Mengusir hawa atau hal hal yang bersifat jahat
-        Mengukur waktu, terlebih pada zaman dahulu sebelum ada jam atau lonceng.
Selain itu ada juga beberapa macam dupa sesuai dengan warna atau bentuk serta penggunannya dupa itu sendiri:
-        Dupa yang bergagang Hijau, berguna ketika bersembahyang didepan jenazah keluarga sendiri.
-        Dupa yang bergagang merah, digunakan untuk bersembahyang pada umumnya.
-        Dupa yang tidak bergagang, berbentuk piramida atau serbuk, berguna untuk menentramkan pikiran, mengheningkan cipta dan mengusir arwah jahat.
-        Dupa yang berbentuk spiral seperti obat nyamuk, hanya untuk bau-bauan saja.
-        Tiang Siu Hio, dupa tanpa gagang, panjang lurus dibakar kedua ujungnya, digunakan khusus untuk bersembahyang kepada tuhan.
Ada juga pembagian dupa menurut jumlah penggunaan dupa:
-        Dupa warna Hijau, 2 batang digunakan untuk menghormati jenazah keluarga sendiri atau kehadapan altarnya yang masih belum melampaui masa berkabung,  boleh saja digunakan hanya satu batang.
-        Dupa warna merah:
a.      1 batang, dapat digunakan untuk segala macam sembahyang, bermakna memusatkan fikiran untuk sungguh sungguh bersujud.
b.     2 atau 4 batang untuk menghormati kepada arwah orang tua yang meninggalnya telah melampaui 2 x 360 hari, atau kehadapan altar jenazah bukan keluarga sendiri dan mengandung makna ada hubungan duniawi atau urusan keduniaan.
c.      5 batang, untuk menghormati arwah umum, mengandung makna melaksanakan lima kebajikan.
d.     8 batang, mengandung makna delapan kebajikan, dan digunakan sama dengan 2 atau 4 batang.
e.      9 batang, untuk bersembahyang kepada tuhan yang maha esa, para nabi dan para suci.
f.      1 pak, boleh sebagai pengganti 9 atau 1 batang.
b.     Lilin atau Lampu, mempunyai makna menerangi dan berdiri tegak, sedangkan asap dari pada lilin itu sendiri dilambangkan sebagai bentuk naiknya do’a keperaduan Tuhan yang maha esa,
c.      Youlou, tempat untuk meletakkan Hio setelah dibakar yang terbuat dari besi kuningan dan berbentuk seperti hati.
4.     Jadwal pelaksanaan peribadatan
Ada beberapa waktu peribadatan yang harus dilaksanakan oleh umat kanghucu selain ibadah setiap hari:
a.      Peribadatan setiap hari, pagi dan sore, peribadatan ini bias dilaksanakan dirumah ataupun ditempat peribadatan agama konghucu atau klenteng.
b.     Peribadatan setiap tanggal 1 imlek dan 15 imlek yang dilaksanakan di klenteng, peribadatan pada tanggal 1 imlek di pergunakan untuk intropeksi diri manusia, sedangkan pada tanggal 15 imlek digunakan untuk memohon permintaan kepada tuhan dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan selama hidup.
c.      Peribadatan setiap minggu atau kebaktian mingguan, yakni do’a secara berjama’ah dan membaca ayat dari kitab sushi sebagai renungan dan kemudian di akhiri dengan khotbah keimanan, dilaksanakan setiap hari minggu jam 09.00- 11.00 wib, di klenteng Boen Bio jl. Kapasan 131 Surabaya.
Lebih lengkapnya lagi dalam buku tata Agama dan tata laksana upacara agama konghucu disebutkan ada beberapa macam peribadatan:
a.      Ibadah kepada Tuhan yang maha esa/ Thian
-        Sembahyang pengucapan syukur tiap pagi dan sore, saat menerima rezeki makan.
-        Sembahyang tiap tanggal 1 dan 15 imlek
-        Sembahyang besar pada hari hari kemuliaan, yakni: malam penutupan tahun, king thi kong tanggal 8 menjelang 9 cia gwee, saat cap go meh, tang cik saat tanggal 22 desember.
b.     Kebaktian bagi nabi
-        Peringatan hari lahir nabi konghucu pada tanggal 27-VIII lemlik
-        Peringatan hari wafat nabi konghucu pada tanggal 18-II lemlik
-        Peringatan hari genta Rohani pada tanggal 22 desember.
c.      Kebaktian bagi para suci
-        Hari twan yang jatuh pada tanggal 5-V lemlik
-        Sembayang tiong chu pada tanggal 15-VIII lemlik
-        Hari he gwan pada tanggal 15-X lemlik.
d.     Sembahyang bagi para leluhur
-        Sembahyang pada tanggal 1 dan 15 penanggalan bula.
-        Hari wafatnya leluhur atau orang tua.
-        Sembahyang tutup tahun.
-        Sembahyang sadranan/ziarah
-        Sembahyang arwah leluhur.
e.      Kebaktian masyarakat
-        Sembahyang arwah untuk umum, pada tanggal 29-VII lemlik.
-        Hari persaudaraan atau hari kenaikan malaikat dapur tanggal 24- XII lemlik (pada  hari hari itu diwajibkan berdana bagi fakir dan miskin).
-        Seluruh perbuatan lahir batin kita sepanjang hidup hendaknyadisadari sebagai perbuatan kebaktian/ ibadah disebut dengan isitila hidup sepenuh hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar